Friday, March 29, 2019












Sepenggal Info Tentang Hewan yang Dilindungi di Indonesia (II) 


6.  Rusa Bawean (Bawean Deer)

Hasil gambar untuk rusa bawean

          Jumlah yang tersisa kurang lebih 250 ekor dengan masa hidup 17 tahun. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 1977, rusa Bawean hanya ditemukan di pulau Bawean, Indonesia. Pulau Bawean merupakan pulau kecil, terpencil di laut Jawa dan merupakan kawasan yang termasuk daerah Gresik, Jawa Timur.
 Habitat yang terisolir dari kawasan lain tidak membuat populasi rusa Bawean  menjadi stabil, malahan terancam menurun karena pesatnya peningkatan populasi manusia di pulau Bawean.
Rusa bawean yang dijadikan maskot Asian Games 2018 ini juga dikenal sebagai rusa babi. Berdasarkan data IUCN, spesies rusa bawean sudah tergolong langka dan tergolong hampir punah. Hewan yang aktif di malam hari ini (nocturnal) hidup dalam kelompok kecil.
Hewan ini dilindungi sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Hampir semua jenis rusa asli Indonesia telah dilindungi oleh Ordonisasi dan UU Perlindungan Satwa Liar no. 134 dan 266 tahun 1931. Dan diperkuat oleh Peraturan Pemerintah no.7 tahun 1999.

7.   Harimau Sumatera (Sumatran Tiger)

Hasil gambar untuk harimau sumatera 
          Jumlah tersisa kurang lebih 400 ekor. Masa hidup 20 – 25 tahun. Lama kehamilan 3,5 bulan dengan jumlah sekelahiran kurang lebih 3-4 anak.
          Harimau Sumatera merupakan satu-satunya spesies harimau Indonesia yang masih bertahan, setelah kepunahan harimau Jawa dan Bali. Warna yang khas adalah garis-garis hitam tebal pada bulu oranye mereka. Ancaman  terbesar bagi populasi harimau Sumatera adalah perburuan liar dan deforestasi oleh industri kelapa sawit dan kertas. Kawasan hutan di Sumatra dianggap belum cukup untuk melindungi pelestarian mereka.
          Siapapun yang tertangkap dalam perburuan harimau bisa terkena sanksi penjara atau denda dengan jumlah yang tidak sedikit sesuai aturan yang berlaku. Tetapi meskipun ada upaya seperti itu, tetap saja ada perdagangan harimau beserta produk turunannya. Hal ini tidak mengurangi tingkat perburuan harimau yang ada.
Sebagian besar harimau Sumatra dibunuh dengan sengaja untuk keuntungan komersial. Penghancuran habitat memaksa harimau ke daerah-daerah pemukiman untuk mencari makanan, di mana mereka lebih mungkin mengalami konflik dengan manusia. Konflik manusia-harimau adalah masalah serius di Sumatra. Orang-orang terbunuh atau terluka, dan ternak menjadi mangsa harimau. Tindakan pembalasan oleh penduduk desa dapat menyebabkan terbunuhnya harimau.
Habitat harimau Sumatera yang tersisa berada di area perkebunan sawit Riau (Taman Nasional Bukit Tiga Puluh), kawasan Ekosistem Leuser, Hutan Lindung Singgah Mata, Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan, juga Taman Nasional Batang Gadis di Kabupaten Mandailing Sumatera Utara.

8. Tapanuli Orang Utan (Orang Utan Tapanuli)

Hasil gambar untuk orang utan tapanuli          Jumlah yang tersisa kurang dari 800 ekor. Masa hidup 35-45 tahun. Jumlah kelahiran hanya 1 ekor selama masa periode kehamilan 9 bulan.  Betina biasanya bereproduksi sekitar 8-9 tahun sekali.
Orang Utan Tapanuli baru ditemukan dan dibedakan klasifikasinya dari Orang Utan Sumatera pada tahun 2017. Namun, habitat mereka di perbukitan Batang Toru dikabarkan terancam punah. Mereka hidup di hutan pegunungan sekitar 1.000 kilometer persegi, di selatan Danau Toba di provinsi Sumatera Utara.
Penyebab kepunahan terbesar mereka adalah pembuatan kebun kelapa sawit dan penebangan pohon-pohon di hutan untuk dipakai sebagai pemukiman warga. Induk juga kadang dibunuh oleh manusia, sehingga anaknya bisa dijual secara illegal ke masyarakat untuk dijadikan hewan peliharaan.
Bahkan sekarang banyak perusahaan termasuk industri pertanian dan pembangkit listrik yang beroperasi di daerah Tapanuli Tengah, Utara dan Selatan. Hal tersebut yang dapat mengganggu habitat Orang Utan Tapanuli dan harus dicegah untuk pengrusakan hutan lebih lanjut.

9. Owa Jawa (Javan Gibbon)

Hasil gambar untuk owa jawaJumlah yang tersisa kurang dari 2500 ekor. Masa hidup 35-50 tahun. Satu anak lahir setiap 3 tahun dengan masa kehamilan 7 bulan. Nama lain : Silvery Gibbon.
Owa Jawa yang terancam punah merupakan hewan langka yang sering diperjualbelikan dan diperdagangkan  secara illegal melalui pasar hewan maupun lewat online. Kebanyakan induk dibunuh, sementara anaknya diperjual belikan untuk hewan peliharaan.
Owa Jawa merupakan hewan monogami dan hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Mengambil satu owa Jawa bisa mempengaruhi keberlangsungan hidup anggota keluarga yang lain. Tingkat stress mereka tinggi bila ada salah satu anggota keluarga yang terbunuh.
Habitat Owa Jawa yang asli berada di Taman Nasional Ujung Kulon, Halimun Salak dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Maka itu dilakukan patrol oleh penjaga hutan untuk mencegah perburuan liar serta sosialisasi kepada masyarakat setempat.
Monitoring populasi, pembinaan habitat dengan ditanami tanaman untuk pakan Owa Jawa juga merupakan salah satu cara melindungi habitat Owa Jawa.

10.  Biawak Pohon Tutul Biru ( Blue Spotted Tree Monitor)

Hasil gambar untuk blue spotted tree monitor

          Jumlah yang tersisa, belum diketahui.  Masa hidup 15 tahun. Nama lainnya adalah macraei atau soa-soa. Habitat biawak ini berada di Pulau Batanta, Raja Ampat Papua dan sekitarnya. Biawak ini aktif di siang hari dan menghabiskan banyak waktu di atas pohon.
 Ia menelurkan 3 telur dalam sekali produksi, waktu pengeraman telur sekitar 159 hari dan perlu temperatur antara 29 dan 30 derajat celcius. Makanan utamanya adalah serangga seperti belalang, jangkrik dan hewan yang sejenisnya. Pola biru yang unik pada sisiknya membuat mereka banyak diminati oleh para kolektor reptil, dan bisa dibandrol dengan harga setinggi langit, mencapai 1000 US dolar (10 juta rupiah) atau lebih.
Habitatnya hampir punah karena perburuan reptil ini masih sering dilakukan, biasanya untuk dijual ke luar negeri dan dijadikan hewan peliharaan. Namun pemerintah kini melarang perburuan biawak ini dan melindunginya agar populasi biawak biru yang cantik ini tetap terjaga.


Sekarang, kenapa harus ikut repot menjaga kelestarian hewan yang hampir punah ini? Kembali lagi ke pertanyaan di atas yah… Sekarang kampanye ini nggak hanya diserukan oleh para aktivis pencinta lingkungan loh guys... Malahan aktor sekaliber Leonardo Dicaprio juga ikut datang ke hutan Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh. Dia datang untuk menentang pembangunan perusahaan kelapa sawit yang akan mengganggu habitat  gajah Sumatera, sebagai salah satu hewan yang terancam punah.  

Nah jadi kalau kembali lagi ke diri kita masing-masing.... bagaimana cara kita memandang alam dan lingkungannya sebagai ciptaan Tuhanlah yang akan membuat kita lebih peduli pada hewan-hewan ciptaanNya. Beberapa diantaranya yang bisa kita lakukan adalah tidak ikut memelihara hewan yang dilindungi, ikut mengkampanyekan perlindungan satwa yang hampir punah, tidak mencemari lingkungan dengan bahan kimia dan zat lainnya, tidak menebang pohon secara sembarangan, tidak mencemari lingkungan sekitar, mengurangi penggunaan plastik karena sampah plastik menyebabkan pencemaran lingkungan dan juga mengurangi pemakaian tissue karena berasal dari pohon.
So guys, lets save our planet! Percaya deh kalau apapun yang kamu lakukan dengan segenap hati tidak akan pernah sia-sia ;) 

Wednesday, March 20, 2019




  Sepenggal info tentang Hewan yang Dilindungi di Indonesia (I)

“Aku lihat ada orang yang jualan cula badak di pertokoan X.”
“Eh, beneran? Nggak boleh loh…..itu kan hewan yang dilindungi…”
“Oh gitu ya….makanya aku juga pernah denger…”
“Ada hukuman pidananya bila ketahuan menjual hewan atau produknya yang dilindungi.”

                Ada 10 hewan dilindungi yang ada di negara kita tercinta ini. Beberapa di antaranya pasti sudah pernah dengar yah. Ada badak, pesut, harimau Sumatra, dll. Mungkin kita berpikir, apa pentingnya sih melindungi hewan yang hampir punah? Kan nggak ada kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Salah besar, guys!
                Hewan yang sudah hampir terancam punah merupakan tanda bahwa ekosistem kita mulai kurang stabil. Sebagai contohnya yaitu kura-kura atau penyu di Indonesia sudah semakin terancam punah. Dari jumlah puluhan juta sekarang kura-kura hanya mencapai puluhan ribu yang berada di laut Karibia.
Hal ini sangat mengkhawatirkan karena ekosistem laut akan menjadi sangat tidak seimbang bila tidak ada kura-kura. Contohnya ada kura-kura yang memakan siput pemakan rumput. Bila kura-kura hilang, tidak ada lagi yang memakan siput, dan rumput pun akan tandus. Tanpa ekosistem yang seimbang, kita tidak akan memiliki udara, air, dan tanah yang bersih. Kepunahan hewan ataupun tanaman dapat mengubah ekosistem secara drastis.

Berikut beberapa info tentang hewan yang dilindungi di negara kita tercinta, Indonesia :

1. Badak Jawa (Javan Rhino)

      Masa hidup : 30 -40 tahun
Hasil gambar untuk badak jawa
      Jumlah yang tertinggal : kurang dari 60
      Lama masa mempunyai anak bisa setiap 4 atau 5 tahun, dengan masa hamil  16-19 bulan.
                Ancaman terbesar bagi badak Jawa adalah ukuran mereka yang sangat kecil dari populasi yang tersisa. Habitatnya aman tapi terlalu kecil untuk kelangsungan hidup jangka panjang dari spesies tersebut. Dan yang lebih penting adalah mengamankan badak Jawa ini dari perburuan liar dan perusakan habitat mereka.
                Langkah pertama untuk mencapai tujuan ini adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan populasi yang ada untuk berkembang. Wilayah Studi dan Konservasi Badak Jawa telah berupaya mencapai hal ini dengan meningkatkan jumlah habitat yang tersedia untuk badak Jawa di Ujung Kulon. Memelihara tanaman yang biasa dikonsumsi badak, dan membangun pagar untuk mencegah penularan penyakit dari hewan domestik, yang masih berkeliaran di Taman Nasional.

2.  Pesut Mahakam (Lumba-lumba Air Tawar)


Hasil gambar untuk pesut mahakam      Nama lokal : Pesut
      Masa hidup : 32 tahun atau lebih
      Satu keturunan setiap 2 sampai 3 tahun. Lama kehamilan 9-14 bulan. 
      Jumlah tersisa : kurang lebih 80 ekor

                Keberadaan pesut Mahakam cukup mengkhawatirkan. Mereka banyak ditangkap dalam perburuan liar, ada yang ditangkap hidup-hidup dan dijual untuk dipajang di aquarium. Bentuk mereka unik, dengan kepala yang lebih bulat dari lumba-lumba laut. Sirip punggung juga kecil dan bulat. Polusi dari pertambangan dan industry kelapa sawit juga membahayakan untuk habitat. Penangkapan ikan yang berlebihan juga mengurangi persediaan makanan dari pesut Mahakam, dan banyak yang terbunuh dalam jaring yang digunakan nelayan.

3. Badak Sumatra (Sumatran Rhino )

Hasil gambar untuk badak sumatera     Jumlah yang tertinggal : Sekitar 100 ekor     
Masa hidup : 30 – 45 tahun
Siklus reproduksi sekitar 1 keturunan setiap 4 atau 5 tahun. Lama kehamilan 15 – 18 bulan.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan tempat konservasi Badak Sumatera ( (Dicerorhinus sumatrensis). Perburuan liar untuk mengambil cula dan pengambilan habitat badak untuk perkebunan kelapa sawit dan pemukiman manusia juga merupakan faktor hampir punahnya hewan tersebut.

4. Raja Udang Kalung Biru (Javan Blue-Banded King Fisher)

Hasil gambar untuk raja udang kalung biru
         Raja udang kalung biru merupakan burung paling langka di Indonesia. Populasi burung yang tertinggal sangat sedikit. Hanya sekitar 50- 249 ekor di dunia dengan masa hidup 6-10 tahun. Bahkan dalam birdlife.org, sejak burung raja udang kalung biru ini ditemukan pada tahun 1930, baru sekali dijumpai lagi.
Burung pemalu yang kecil ini terancam punah karena perusakan hutan yang berkelanjutan untuk pertanian dan pembangunan. Habitat burung ini ada di Taman Nasional Gunung Halimun yang dilindungi di Jawa Barat. Ia hidup di hutan dataran rendah dan hutan mangrove, dan makanannya adalah ikan, serangga dan reptil kecil.
Perjumpaan kedua setelah pertama kali ditemukan adalah pada tahun 2009 di Taman Nasional Gunung Halimun. Karena itu IUCN Redlist mengklasifikasikan burung ini menjadi salah satu hewan yang terancam punah atau kritis (critically endangered).
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999 merupakan undang-undang yang menetapkan burunga raja udang kalung biru sebagai hewan yang dilindungi.

5.  Kura-kura Hutan Sulawesi (Sulawesi Forest Turtle)

     Jumlah yang tertinggal : kurang lebih 250 ekor  
Hasil gambar untuk kura kura hutan sulawesi
      Masa hidup belum diketahui
      Nama latin : Leucocephalon yuwonoi

                Hewan ini merupakan salah satu hewan yang terancam punah, biasa diburu oleh manusia untuk dikonsumsi.  Kepala kura-kura jantan berwarna kuning dan kepala yang betina berwarna coklat gelap dan sedikit kuning. Karapas datar berwarna coklat.
                Kura-kura ini belum termasuk yang dilindungi di Indonesia, walaupun sudah termasuk reptile yang paling langka di dunia. Nama lainnya adalah kura-kura paruh betet karena mulutnya seperti paruh.
Ahli konservasi mengatakan hingga 3.000 diekspor sepanjang tahun sebagai konsumsi ke China dan hewan peliharaan eksotik ke Eropa dan Amerika. Habitat mereka hilang karena deforestasi. Habitat hutan hilang karena manusia banyak melakukan penebangan pohon untuk diambil kayunya. Semua dilakukan hanya untuk kepentingan manusia tanpa memperhatikan keberlangsungan hidup fauna yang ada di dalamnya. 

Sumber : indonesiaexpat.biz

Tuesday, February 12, 2019

"Jeda"


Apa kata jeda itu? Jeda adalah waktu berhenti sebentar, waktu beristirahat di antara dua kegiatan. Jeda memungkinkan kita untuk mengambil nafas sejenak, berpikir, atau mungkin bisa sambil menikmati sesuatu sehingga membuat kita fresh kembali.

Aku pun sedang jeda, karena banyak hal.... Entah kenapa, kekecewaan, kesedihan, yang kurasakan membuatku memilih jeda. Hal baik tidak selalu kualami, tapi entah kenapa aku ingin terus berjalan.
Perkataan negatif itu seperti intimidasi bagiku, yang benar-benar kudengar dari telingaku sendiri. Tapi aku memilih jeda.

Jeda itu kuisi dengan berdoa, meminta pertolonganNya. Tahukah kalau Dia selalu dekat? Tak akan pernah ditinggalkannya kita sendirian. 

Jeda itu waktu aku mengisi waktuku dengan kegiatan bersama keluarga dan teman. Menolong saudara yang sakit, menemani orangtuaku untuk mengurus hal penting baginya. 

Jeda itu waktu aku berdoa minta pengampunan, dan agar aku juga bisa mengampuni orang yang telah menyakitiku. Aku ingin hatiku bebas...dan melanjutkan hidupku.

Dan setelah jeda selesai, bukankah ini waktunya untuk kembali berjalan lagi. Menciptakan hal-hal baru yang menyenangkan.

Dan yang paling menyenangkan adalah....

menjadi diri sendiri



Tuesday, May 15, 2018

Padang Lamun, Rumah Mereka untuk Kita


           Padang Lamun, Dugong, dan Peranan Masyarakat dalam Pelestariannya


            Indonesia merupakan surga tropis untuk kehidupan dugong (duyung) dan lamun, guys. Sudah tahu belum apa itu lamun, manfaatnya dan hubungannya dengan kita? Yuk ah, sebagai orang Indonesia yang peduli lingkungan mari kita bahas satu persatu yuk ^_^
            Lamun atau seagrass merupakan tumbuhan berbunga, yang hidup di pesisir. Di banyak tempat, lamun mencakup area luas di dasar laut sehingga disebut Padang Lamun. Lamun juga hidup di daerah pasang surut seperti mangrove dan terumbu karang. Lamun memiliki fungsi dalam menahan gelombang laut, melindungi pantai dari abrasi, menangkap dan menstabilkan sedimen sehingga air menjadi lebih jernih. Lamun diteliti dapat menyerap karbon. Penafsirannya, satu hektar lamun dapat menyerap racun yang ada di udara dari hasil pembakaran 800 ribu punting rokok.  
            Lamun juga merupakan salah satu makanan dari salah satu mamalia laut yang terkenal dengan nama Dugong, atau biasa kita sebut dengan duyung. Selain dugong juga banyak spesies lain yang mempunyai habitat di lamun, seperti ikan kakap, baronang, penyu hijau, dll.
            Dugong dalam bahasa Tagalog, yaitu bahasa yang sering digunakan orang Filipina, artinya Lady of the Sea / Nyonya Laut. Nama ini sendiri dikarenakan bentuk dugong yang mirip dengan legenda putri duyung yang sudah terkenal di antara kita.

            Dugong merupakan 1 dari 35 jenis mamalia laut. Hewan laut yang mampu menahan nafas dalam air selama 20 menit. Panjang usianya kisaran maksimum 70 tahun, panjang 3 meter dengan bobot kurang lebih 450 kg. Periode kehamilan 13-15 bulan, dengan masa laktasi 16-18 bulan. Usia sebelum breeding (jantan) : 10-16 tahun, sementara usia sebelum breeding (betina) : 10-17 tahun.

            Dugong telah diburu selama ribuan tahun untuk diambil daging, minyak bahkan air matanya. IUCN (International Union for Conservation of Nature ) mencantumkan dugong sebagai spesies yang terancam punah. UU no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan UU no 31 tahun 2004 tentang Perikanan merupakan Undang-Undang yang melindungi dan melarang perburuan satwa yang dilindungi termasuk dugong. Siklus reproduksi dugong sangat lambat dan memerlukan waktu 6 tahun atau lebih untuk dugong betina melahirkan satu anak.
            Lamun dan dugong mempunyai sebuah hubungan saling menguntungkan yang bernama simbiosis mutualisme. Worlwide conservation organization (e.g. Seagrass watch)  melaporkan penurunan padang lamun karena pestisida yang terkandung dalam air dari limbah industry.
            Penurunan lamun juga merupakan ancaman kritis bagi dugong. Kurang gizi karena kurang makan bisa membuat dugong berhenti bereproduksi. Karena berdasarkan data dari LIPI, 2017, dikatakan bahwa dari 1.507 km2 luas padang lamun di Indonesia, hanya terdapat 5 % yang sehat. Bila lamun rusak  maka kehidupan duyung sebagai spesies yang dilindungi juga terancam punah.
            Begitupun dengan lamun yang diuntungkan dengan keberadaan dugong. Sebagai mamalia laut, adanya dugong sangat penting bagi suatu ekosistem padang lamun. Karena kehadiran dugong menandakan wilayah perairan yang subur. Hal tersebut karena dugong punya peran besar dalam membantu siklus nutrient lamun. Kotoran dugong juga bermanfaat untuk bahan tumbuh kembangnya lamun. Karena itu peran dugong sangat besar untuk keberlangsungan padang lamun yang juga merupakan habitat dan tempat berlindung untuk ikan-ikan dan makhluk hidup laut lainnya.
            Sekarang pun karena keberadaan dugong yang semakin mengkhawatirkan dengan adanya penurunan populasi dikarenakan penangkapan illegal oleh masyarakat. Langkah untuk memulai pengelolaan Konservasi Dugong pun semakin ditingkatkan. WWF Indonesia memulai kerjasama dengan Direktorat Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB memulai program Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project / DSCP) di Indonesia sejak tahun 2006.

            Sekarang kembali ke diri kita masing-masing sebagai individu yang peduli lingkungan, apa yang bisa kita lakukan?
1. Bila kita melakukan wisata, sebaiknya jangan buang sampah sembarangan ke laut, tetap jaga kebersihan laut kita. Ingat, pencemaran air laut dapat merusak habitat tanaman di laut termasuk salah satunya adalah lamun.
2. Jangan membuang limbah atau kotoran ke sungai yang lambat laun mengalir ke laut
3. Menghindari penangkapan ikan yang berlebihan dengan menggunakan bom atau pukat harimau. Hal tersebut dapat membuat ekosistem laut menjadi rusak.
4. Mendukung program pemerintah dalam hal pengelolaan konservasi lamun dan dugong ini. Jangan ikut-ikutan memburu dugong ya, kasihan kan mereka. Dugong itu makhluk yang lembut loh, walaupun lumayan juga kalau kena hempasannya (450 kg!) hihihih….


   Demikian sekilas tentang padang lamun dan dugong. Semoga tetap terjaga keseimbangan ekosistemnya yah untuk Indonesia yang lebih baik!

Sumber : DSCP Indonesia, savethedugong.org, mediaindonesia

Saturday, April 21, 2018

Apa yang Bisa Diteladani dari Kartini?


                                                Apa yang bisa ditiru?

“Menurutmu apa yang bisa ditiru dari Kartini?” dia bertanya padaku. Obrolan ringan sebetulnya, hanya sambil jalan sepulang dari kantor. Jalanan ramai, padat, penuh dengan kendaraan yang lalu lalang dan terkadang mengendap saking macetnya.
Pertanyaan simple ya, tapi aku sedikit lama menjawab. Entah karena efek terlalu lama di depan komputer, kelaparan, atau pusing memikirkan tagihan bulanan. Hihihihih…..
Sejauh ini, apa yang bisa kupikirkan tentang Kartini. Mendengarnya pun hanya dari cerita, artikel yang ada maupun teks di buku sejarah.
R.A Kartini, pahlawan nasional yang memperjuangkan hak kemerdekaan wanita di Indonesia. Lahir pada tanggal 21 April 1879. Anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara di saat itu. Kartini lahir sebagai putri dari keluarga ningrat dan cukup disegani saat itu.

Di masa itu, banyak wanita yang tidak bisa bersekolah. Kartini berusaha memperjuangkan hak wanita di Indonesia baik dalam pendidikan maupun kebebasan dalam menuangkan pikirannya. Kartini diperbolehkan bersekolah sampai usia 12 tahun dan mulai dipingit sesudah itu. Dia dijodohkan ayahnya dengan bupati Rembang, Joyodiningrat, yang sudah mempunyai tiga istri. Mereka menikah pada tanggal 12 November 1903. Hal yang bukan keinginannya, tapi dilakukan hanya untuk menuruti keinginan ayahnya.
            Keinginan membangun sekolah diketahui dan didukung oleh suaminya, Joyodiningrat. Dia pun mendirikan sekolah untuk perempuan di Rembang. Kartini melahirkan anak pertamanya pada 13 September 1904. Sayangnya Kartini meninggal beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya pada tanggal 17 September 1904.
            Semasa hidupnya, Kartini belajar sendiri. Dia banyak membaca, belajar bahasa Belanda dan mempunyai beberapa sahabat pena dari Belanda. Salah satu suratnya adalah Habis Gelap Terbitlah Terang.
            Terinspirasi dari pejuang kita, RA Kartini, keluarga Van Deventer pun mendirikan sekolah Kartini di Semarang pada tahun 1912. Diikuti sekolah wanita di beberapa daerah lain seperti Surabaya, Jogja, Malang, Madiun, Cirebon dan beberapa daerah lainnya.
            “Jadi apa yang bisa ditiru dari Kartini?” tanya temanku sekali lagi membuyarkan lamunan yang banyak mengalir di seisi kepalaku bagaikan sebuah film lama dengan nuansa hitam dan putih.
            Aku tersenyum simpul. “Semangat juang dan kegigihannya.” jawabku sambil melihat sesosok ibu yang sedang menggandeng anaknya, nenek-nenek yang sedang berjualan es di pinggir jalan, dan polwan yang sedang sibuk mengatur lalu lintas.
            Kalau kamu gimana? Apa yang bisa ditiru dari seorang Kartini?

            Sumber : Wikipedia, kartini                                


Monday, April 16, 2018

Sekilas tentang Catnip



“Udah tau belum yang bisa bikin kucing nge-fly? Itu loh, yang katanya ganjanya kucing?” ujar salah seorang customer Petshop pada temannya, yang sontak langsung disambut tawa temannya
“Seriusan? Emang beneran?” Mereka tertawa-tawa sambil mengamati daun-daun yang dibungkus cantik dalam plastik itu.


Yupz , mungkin beberapa dari kita belum tahu tentang Catnip? Sebenarnya, apa sih catnip itu??

Catnip atau disebut Catmint, mempunyai nama Latin Nepeta Cataria yang adalah spesies dari genus Nepeta dalam keluarga Lamiaceae. Bentuknya hampir menyerupai tanaman mint, daunnya kasar, bergigi hampir segitiga atau oval.
Catnip mempunyai kandungan Nepetalactone, kandungan ini yang menyebabkan daya tarik terhadap kucing. Namun tidak semua kucing mempunyai respon yang sama terhadap Catnip, loh. Setiap kucing mempunyai respon berbeda terhadap Catnip, faktor utamanya adalah ras dan genetik. Anak kucing di bawah 6 bulan juga tidak bisa terpengaruh oleh Catnip.
Penelitian juga sudah dilakukan pada tahun 1972 oleh R.C Hatch, D.V.M, Ph.D mengenai Efek dari Catnip yang meningkatkan kegembiraan pada kucing. Respon dari kucing tersebut sudah diamati dan dipelajari di bawah pengamatan pemilik kucing dan dokter hewan. Dalam pengalamannya, kucing juga menunjukkan halusinasi di bawah pengaruh catnip.
Respon kucing bermacam-macam, biasanya mulai dari mengendus-ngendus tanaman, menjilat dan mengunyah dengan kepala bergoyang, menggosok-gosokkan dagu dan pipi, hingga berliur dan mengguling-gulingkan tubuhnya. Respon ini berlangsung sekitar kurang lebih 15 menit dan kucingmu akan kembali seperti sedia kala. Catnip baru bisa mempengaruhi kucingmu lagi bila sudah lebih dari sejam. 

 Catnip juga aman untuk kucing. Efek sampingnya kalau makan terlalu banyak catnip bisa menyebabkan muntah dan diare, dan bisa kembali normal lagi berdasarkan waktu (dan tidak boleh lagi diberikan catnip) J  
Catnip bisa dipergunakan untuk manusia, karena fungsinya sebagai penenang (sedative). Juga bisa dibuat untuk teh herbal yang mengurangi sakit kepala, kram perut, kesulitan tidur dan juga untuk mengusir nyamuk. Efek pada manusia tidak sama dengan efek pada kucing.

Efek catnip memang menyenangkan untuk kucingmu dan kamu sendiri. Jangan khawatir karena catnip nggak menyebabkan kucingmu ketergantungan. Walaupun begitu, jangan terlalu sering memberi catnip pada kucingmu ya J Sebaiknya tidak lebih dari seminggu sekali.
Oh iya tanaman catnip ini tumbuh liar di beberapa daerah di Amerika Utara, Eropa dan Selandia Baru. Kalau di Indonesia, ada tanaman yang mempunyai efek sama dengan catnip namanya tanaman Anting-anting atau nama Latinnya Acalypha indica. Tanaman ini paling disukai kucing karena bagian akarnya, loh. Tanaman ini kadang disebut Kucing-kucingan, Akar kucing, atau bayam liar.

sumber : dr. Jennifer Coates, (petmd) , gwern.net

8 Hari Sebelum Natal

Melihat ke bulan Januari 2021 sampai dengan saat ini. Merefleksikan diri, dan memahami semua yang terjadi. Banyak salah, aku ingin memperbai...